Awas Bahaya Laten Penyakit Hati, Syubhat & Syahwat (Seri 1)

Seorang pemuda tergolek lemah di ranjangnya, dia berteriak pada ayahnya..

“Ayah.. cepatlah bawa aku ke rumah sakit, kepala pusing sekali, perutku mual dan badanku lemah..!!”

Sang Ayahpun tanpa menunggu lama dibantu para tetangganya segera membawa si pemuda tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.

Dalam kasus lain nampak sekelompok orang yang melakukan sebuah acara di tepi pantai. Umbul-umbul menambah kemeriahan acara tersebut, sorot lampu warna warni, jajanan yang tersedia menambah meriah acara tersebut. Tampak sesaji dalam berbagai bentuk dihias dengan cantik dan dihanyutkan ke laut dalam rangka agar terhindar dari bencana dan mendatangkan kemakmuran bagi warga setempat. Acara tersebut tidak hanya acara biasa yang diadakan warga, tetapi dibingkai dengan legalitas yang resmi oleh pamong desa bahkan tingkat yang lebih tinggi. Semua bergembira dan bahagia. Semua merasa telah melakukan hal yang sangat baik dan benar.

Dari 2 kasus di atas bagaimana menurut anda? Kedua kejadian tersebut adalah fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Pada kasus yang pertama, orang-orang menganggap bahwa si pemuda memang sakit dan perlu segera mendapatkan pengobatan, dan pada kasus yang kedua orang-orang mengganggap hal tersebut biasa dan wajar, orang-orang yang melakukan acara menarik di tepi pantai itu tidak mengalami sakit apapun.

Apakah memang demikian adanya?

Pada hakekatnya dalam kedua kasus tersebut baik si pemuda maupun orang-orang di tepi pantai sama-sama sakit. Dan justru pada kasus yang kedua adalah sakit yang lebih berbahaya. Karena sebenarnya orang-orang pada kasus yang kedua telah terkena penyakit hati.

Ya.. Penyakit Hati sering kali dianggap remeh, berbeda dengan penyakit lahiriyah atau penyakit fisik. Ketika seseorang terserang penyakit lahiriyah maka dengan segera langsung mencari obat untuk mengobatinya, sedangkan jika seseorang terserang penyakit hati dia tidak segera mencari obatnya. Penyakit yang menyerang fisik langsung dapat di lihat dan dirasakan sakitnya, tetapi penyakit hati tidak nampak secara fisik tetapi ternyata kerugian dan kehancurannya lebih besar dari pada penyakit fisik.

Ya, penyakit hati ternyata menyimpan bahaya laten yang bisa membawa kehancuran target yang diserang di dunia sampai nanti di Akhirat. Karena Syaitan dalam usaha menyesatkan manusia menjadikan hati sebagai target utama, karena bersumber dari hatilah sholih dan tidaknya seseorang. Boleh seseorang mengalami sakit fisik tetapi jika hatinya telah sholih maka dia akan tetap teguh dalam kebenaran, tetapi sebaliknya jika hatinya telah rusak maka walaupun fisiknya kuat dan sehat, dia tidak teguh bahkan keluar dari jalan kebenaran.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Di dalam menjalankan aksinya syaitan memiliki dua senjata ampuh dan telah banyak jatuh korban dari umat. Dua senjata ampuh tersebut adalah syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya.

Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal: 31, DR. Ahmad Farid]

Contoh dari Penyakit syubhat ini adalah: Keraguan, Kemunafikan, Bid’ah, Kekafiran, dan Kesesatan lainnya.

Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan, atau kecintaan. Sedangkan fitnah syahwat (penyakit mengikuti syahwat) adalah mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at.

Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak, dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini.

Penyakit syahwat ini misalnya: Rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji, zina, dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Kekhawatiran Rasulullah Terhadap Penyakit Syubhat Dan Syahwat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.” [HR. Ahmad dari Abu Barzah Al-Aslami. Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr di dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal: 21]

Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan adalah fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat. Kedua fitnah inilah yang menyerang umat terdahulu sampai saat ini.

Jenis-Jenis Fitnah Syubhat

  1. Di antara fitnah syubhat terbesar adalah kekafiran. Karena sesungguhnya orang-orang kafir itu berada di dalam kesesatan tetapi mereka menyangka berada di atas kebenaran dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً {103} الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا {104} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَنُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا {105}

Katakanlah: ”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi: 103-105)

Lihatlah orang-orang kafir tersebut! Amalan mereka terhapus dan sia-sia, tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya!! Alangkah ruginya mereka!!!

  1. Di antara fitnah syubhat yang tak kalah dahsyat adalah kemunafikan.

Simaklah firman Allah Azza wa Jalla.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {10} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {11}

Dalam hati mereka (orang-orang munafik) ada penyakit (syubhat; keraguan), lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al Baqarah: 10-11)

Perhatikanlah orang-orang munafik ini, mereka nyata-nyata berbuat kerusakan, tetapi mereka menyangka mengadakan perbaikan!

  1. Di antara bentuk fitnah syubhat yang lain adalah fitnah bid’ah dan mengikuti hawa-nafsu. Fitnah ini menyebabkan umat terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.

Ya fitnah syubhat bisa menjadikan orang menjadi kafir, munafik dan bid’ah tanpa mereka sadari atau bahkan mereka merasa itu adalah kebenaran, na’udzubillah min dzalik,

Itulah sedikit dari hakekat bahaya laten penyakit Hati yang bernama fitnah SYUBHAT, kemudian bagaimana dengan penyakit hati yang bernama fitnah SYAHWAT? dan bagaimanakah MENGOBATINYA ?

Bersambung ke edisi selanjutnya …

[Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *