Awas Bahaya Penyakit Syahwat (Penyakit Hati Seri 2)

Setelah pada edisi sebelumnya dibahas secara singkat tentang bahaya penyakit SYUBHAT di edisi ini akan dibahas tentang penyakit SYAHWAT.

Jenis-Jenis Fitnah Syahwat

Sumber dari fitnah syahwat ini adalah kenikmatan dunia, macam fitnah syahwat yang paling utama disebutkan dalam firman Allah :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa sumber dari penyakit ini adalah :

  1. Fitnah Wanita

Fitnah syahwat yang pertama bagi laki-laki adalah bersumber dari wanita dan begitu juga sebaliknya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara adalah mentaati para wanita.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 257)

Fitnah wanita ini bagi laki-laki sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Beliau memperingatkan hal tersebut di dalam sabdanya :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari no: 5096, Muslim no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid)

Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa oleh sebab seorang wanita, laki-laki rela melakukan apa saja untuk menyenangkannya. Berapa banyak laki-laki yang terjerumus untuk berbuat curang mengambil yang bukan haknya untuk memenuhi kebutuhan sang wanita, bahkan tidak sedikit yang rela membuang keislamannya untuk menuruti sang wanita. Terjerumus dalam kemaksiatan karena suka memandang, menyentuh, berpacaran bahwa berbuat zina karena cintanya pada sang wanita.

Banyak juga yang menjadi pemimpi, ahli angan-angan dengan menyimpan foto-foto kekasihnya, idolanya. Fitnah wanita tidak hanya berbahaya bagi para pemuda saja, tetapi juga sangat berbahaya bagi seorang suami, yang demi kesenangan istrinya rela melakukan apa saja, bahkan demi istrinya rela meninggalkan ketaatan kepada Allah, dia lebih menuruti apa yang diinginkan oleh sang istri dari pada apa yang Allah Ta’ala mau.

Oleh orang-orang pecinta syahwat dunia juga memanfaatkan wanita untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan menjual wanita sebagai model usahanya, merayu dan mengelabuhi orang-orang agar mau membeli produknya, menggunakan jasanya dan lain-lain.

Dari wanita itu sendiri merasa diuntungkan dan rela menjual kecantikannya sebagai alat promosi, si wanita rela menceburkan dirinya sebagai perantara perbuatan maksiat yang berujung kepada kecanduannya para laki-laki sehingga mereka berubah menjadi hamba syahwat. Na’udzubillah..

Oleh karena itu, bagi para Muslimah diwajibkan untuk menjaga kehormatan dirinya sesuai yang diperintah oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak menjerumuskan dirinya sendiri kedalam perbuatan maksiat dan agar tidak menjadi “agen” berkembangannya penyakit Syahwat dengan segala bahayanya.

  1. 2. Fitnah berupa Anak

Fitrah dari tabiat seorang manusia adalah rasa cinta kepada anak keturunannya. Cinta kepada anak adalah wajar dan normal, bahkah menjadi keluar dari tabiat fitrahnya manakala seorang bapak tidak mencintai anaknya, tetapi mencintai anak dengan berlebihan bisa menjadi fitnah dan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan yang menghancurkan.

Allah mengingatkan fitnah anak ini di dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُ {15}

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghaabun: 14-15)

Allah Ta’ala dengan jelas memperingatkan manusia akan bahaya fitnah terhadap anak, jangan sampai seorang anak yang seharusnya menjadi investasi akhirat (anak sholih) dan penguat kita dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala justru menjadi penguras pahala kita atau bahkan menjadi penghalang kita dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Maka didiklah anak anak generasi penerus dengan didikan yang benar, dekatkanlah dengan Allah, Rasul dan Al Qur’an sehingga anak kita menjadi anak yang sholih dan menjadi penguat kaum mukminin.

  1. 3. Fitnah berupa Harta

Di antara fitnah ke fakiran dan kekayaan Rasulullah lebih mengkhawatirkan kekayaan harta menimpa umatnya.

Rasulullah bersabda :

فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari Amr bin Auf Al-Anshari)

Dan dalam hadist yang lebih panjang menjelaskan tentang keburukan dan kehancuran yang diakibatkan oleh berlomba-lomba mencari harta dan rakus akan harta tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

Jika Persia dan Romawi dibukakan pada kamu, menjadi kaum yang mana kamu nanti? Abdurrahaman bin ‘Auf berkata: “Kami akan berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasulullah. (Beliau berkata): “Atau (kamu akan melakukan) selain itu, kamu akan saling berlomba (meraih dunia), kemudian kamu akan saling hasad, kemudian kamu akan saling menjauhi, kemudian kamu akan saling membenci, atau semacamnya, kemudian kamu akan berangkat ke rumah-rumah orang-orang muhajirin, lalu sebagian kamu memukul leher sebagian yang lain. (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abdulah bin Amr bin Al-Ash)

Dan itulah realita hari ini dari rakusnya para pecinta Syahwat akan harta, mereka saling berlomba, saling curiga walau dengan saudaranya, kemudian saling menjauhi, saling menyalahkan, membenci dan berujung pada kedholiman yang besar pada sesama, saling melukai fisik maupun psikis bahkan berujung pada pembunuhan. Na’udzubillah min dzalik.

  1. 4. Fitnah Kemulian, Jabatan, Gengsi, dan K

Tamak Terhadap Asy-Syaraf (kemuliaan, kedudukan, kehormatan, gengsi), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan sabdanya:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua srigala lapar yang dilepas pada seekor kambing lebih merusakkannya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan (yang merusakkan) agamanya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dari Ka’b bin Malik Al-Anshari. Dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Shuwar Minal Fitan, hal: 38)

Contoh pada Zaman Rasulullah bagai seorang Abdul Muthollib tidak mau masuk Islam karena kedudukannya. Na’udzubillah min Dzalik.

Itulah di antara fitnah penyakit syahwat yang menghancurkan penderitanya. Orang yang terkena penyakit syahwat akan menjadi berat dalam beribadah, dalam menuntut ilmu dan berakibat lemahnya keilmuan, kefahaman, pengetahuan tentang dien sehingga lambat laun fitnah syubhat akan menjangkitinya. Na’udzubillah min dzalik.

BENTENG PENYAKIT SYUBHAT DAN PENYAKIT SYAHWAT

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Asal seluruh fitnah (kesesatan) hanyalah dari sebab: mendahulukan fikiran terhadap syara’ (agama) dan mendahulukan hawa-nafsu terhadap akal.

Yang pertama adalah asal fitnah syubhat, yang kedua adalah asal fitnah syahwat. Fitnah syubhat-syubhat ditolak dengan keyakinan, adapun fitnah syahwat ditolak dengan kesabaran. Oleh karena itulah Alloh menjadikan kepemimpinan agama tergantung dengan dua perkara ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih kepemimpinan dalam agama. Allah juga menggabungkan dua hal itu di dalam firman-Nya:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 3)

Maka mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran yang menolak syubhat-syubhat, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran yang menghentikan syahwat-syahwat.

Allah juga menggabungkan antara keduanya di dalam firman-Nya:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shaad: 45)

Maka dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, fitnah syahwat akan ditolak. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, fitnah syubhat akan ditolak [Mawaridul Amaan, hal: 414-415]

Wallahul Musta’an.

[Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *