Awas..! Status Berpaling dari Dien Allah, Tidak Mempelajari dan Tidak Mengamalkan Adalah Keluar dari Islam

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (QS. As-Sajdah: 22)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Adapun firman Allah Ta’ala: ”Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya…” maksudnya adalah tidak ada yang lebih dhalim daripada orang-orang yang diberi peringatan tentang ayat-ayat Allah lalu dia meninggalkannya, menolaknya, berpaling darinya dan sengaja melupakannya seakan-akan tidak tahu. Qatadah berkata: ”Jauhilah sikap berpaling dari peringatan Allah, karena barangsiapa yang berpaling dari peringata-Nya dia telah tertipu dan termasuk dari dosa terbesar. Oleh karenanya Allah mengancam orang-orang yang berbuat demikian “Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” maksudnya kami akan membalas orang yang berbuat demikian dengan balasan yang sangat keras.”

Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin: “… Adapun kufur akbar, maka ada lima jenis … (kemudian beliau menyebutkan dan mengatakan) adapun kufur Karena sikap I’radh (berpaling) adalah dia berpaling dengan pendengaran dan hatinya dari Rasul, tidak membenarkannya dan tidak mendustakannya, tidak berwala dan juga tidak memusuhi dan tidak mau memperhatikannya sama sekali terhadap apa yang beliau bawa.” Selesai perkataannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka” (QS. Al Ahqaf: 3)

Berpaling dari agama islam tidak terlepas dari 2 keadaan:

Pertama: Berpaling dari Islam dengan tidak mempelajarinya

Syaikh Abdul Latif bin Abdurahman bin Hasan pernah ditanya tentang sikap berpaling yang membatalkan keislaman seseorang, Beliau berkata: ”Sesungguhnya keadaan setiap orang itu berbeda-beda sesuai dengan kadar keimanan masing-masing jika masih ada dasar keimanan pada dirinya. Sedangkan tafrith dan syirik itu selain darinya yaitu amalan yang wajib ataupun mustahab. Dan apabila dasar keimanan yang memasukannya ke dalam islam tidak ada dan berpaling darinya secara keseluruhan maka ini adalah kekufuran karena berpaling. Allah telah berfirman: “Dan sungguh, akan kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. (QS. Al A’raf: 179) dan firman-Nya “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha : 124). Syaikh Sulaiman Ibn Sahman menjelaskan: “Bahwa seseorang tidak dikafirkan kecuali jika berpaling dari mempelajari pokok Agama Islam yang dengannya seseorang masuk ke dalam islam, bukan karena meninggalkan hal-hal yang wajib atau mustahab.”

Dan yang dimaksud oleh Syaikh Sulaiman dalam perkataannya: “Bukan karena meninggalkan hal-hal yang wajib atau mustahab” maksudnya adalah meninggalkan sebagian kewajiban, hanya sebatas maksiat bukan kekufuran, dan bukan meninggalkan secara mutlak atau yang dalam hukumnya, karena yang tetap menurut Ahlusunah bahwa seseorang yang meninggalkan jenis amal (yakni secara mutlak) adalah kafir, begitu juga yang meninggalkan shalat menurut pendapat jumhur, sahabat dan tabi’in.

Kedua: Berpaling dari Islam dengan tidak mengamalkannya

Bagian ini terbagi menjadi 2 jenis, yang pertama berpaling secara keseluruhan ( كلي  ) yaitu berpaling dari jenis amal (secara mutlak) dan pelakunya telah keluar dari islam sebagaimana keterangan Syaikh Sulaiman rahimahullah di atas. Kedua berpaling dari sebagian perkara (جزئ) yaitu berpaling dari mengamalkan sebagaian kewajiban. Orang yang melakukannya tidak keluar dari Islam, selama dasar keimanannya masih ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Seseorang belum beriman kepada Allah dan rasul-Nya jika belum melaksanakan kewajiban yang dikhususkan oleh Nabi Muhammad untuk dikerjakan.” (Majmu’ Fatawa 621/7)

Maka kedua perkara ini yaitu mempelajari dan mengamalkan ajaran islam adalah kewajiban yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai” (QS. At Taubah: 33)

Petunjuk (الهدى) yaitu ilmu yang bermanfaat dan Agama yang benar (دين الحق) maksudnya adalah beramal shalih. Maka barangsiapa yang berpaling dari islam dengan tidak mempelajarinya menyerupai orang-orang Nasrani. Dan barangsiapa yang berpaling dari islam dengan tidak mengamalkannya menyerupai orang-orang Yahudi.

Berpaling bukan berarti mendustakan

Mendustakan berarti tidak membenarkan sedangkan berpaling berarti tidak ingin mempelajari dan tidak mengamalkan tapi bisa jadi membenarkan risalah. Perhatikan ayat Allah dalam surat Al Qiyamah ayat 31-32 “karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al qur’an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan sholat, tetapi justru dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran)” Allah mengkabarkan bahwa orang kafir tidak membenarkan bahkan mendustakan, juga tidak sholat bahkan berpaling. Sehigga arti dari berpaling adalah tidak beramal dan berpaling dari taat kepada Allah adalah kekufuran. Allah berfirman “Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “(Jika kamu berpaling) yaitu kamu menyelisihi perintah-Nya. (Sesungguhnya Allah tidak meyukai orang-orang kafir) ini menunjukan bahwa menyelisihi perintah-Nya termasuk dari kekufuran dan Allah tidak menyukai orang-orang yang memiliki sifat tersebut meski beranggapan bahwa dirinya mencintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya serta mengikuti Rasulullah yang diutus kepada jin dan manusia. (Tafsir Ibnu Katsir)

Allahu a’lam bisshowab

[Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *