Berita Tentang Malik Bin Nuwairah Alyarbui At-Tamimi dan Kaumnya

Sebelumnya Malik hanyalah berbasa-basi dengan Sajaah yang datang dari tanah Jazirah. Namun tatkala Sajaah berhubungan dengan Musailamah dan kembali ke negerinya, Malik merasa menyesal. Ia berdiam di suatu tempat yang bernama al-Buthah.[166] Khalid segera datang dengan bala tentara-nya untuk membuat perhitungan dengannya. Namun sebagian Anshar enggan untuk mengikutinya dan mereka berkata, ”Kita telah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu..” Khalid berkata kepada mereka, “Hal ini harus dilakukan karena ini adalah kesempatan yang tak boleh terlewatkan. Walaupun aku tidak mendapat instruksi, namun aku adalah pimpinan kalian dan akulah yang bertanggung jawab. Oleh karena itu aku tidak bisa memaksakan kalian untuk mengikutiku, yang jelas aku harus ke al-Buthah.” Maka Khalid berjalan selama dua hari kemudian kaum Anshar akhirnya turut juga mengikutinya dan mengejarnya.

Ketika mereka sampai di al-Buthah, Malik bin Nuwairah sedang berdiam diri. Khalid segera mengirim mata-matanya ke sekitar al-Buthah sambil mendakwahi manusia. Para pemimpin Bani Tamim menyambutnya dengan patuh dan ta’at. Mereka juga mengeluarkan zakat kecuali Malik bin Nuwairah sendiri, dia dalam keadaan bingung untuk berbuat dan menyendiri dari manusia. Maka tentara Khalid langsung menawan Malik dan teman-temannya. Pasukan kaum rmislimin berselisih mengenai status tawanan ini.

Abu Qatadah al-Harits bin Rib’iy al-Anshari angkat bicara setelah bertasyahhud, “Sesungguhnya mereka telah mendirikan shalat.” Sementara yang lain berpendapat, “Mereka tidak mengumandangkan adzan dan tidak mengerjakan shalat.” Para tawanan itu bermalam dalam keadaan kedinginan. Salah seorang suruhan Khalid menyeru, “Hangatkanlah para tawanan kalian!” Sebagian dari tentara menganggap bahwa ini adalah isyarat untuk membunuh mereka, maka seluruh tawanan dibunuh. Dhirar bin al-Azur[167] yang membunuh Malik bin Nuwairah. Ketika Khalid mendengar berita ini ia segera keluar menyusul mereka. Namun ternyata seluruhnya telah habis dibunuh. Khalid berkata, “Jika Allah menginginkan suatu urusan pasti akan terlaksana.”

Ada yang menyatakan bahwa Khalid memanggil Malik bin Nuwairah dan ia mencela segala yang telah dilakukan oleh Malik, mulai dari sikapnya yang mengikuti Sajaah dan tidak mau membayar zakat, Khalid berkata, “Tidakkah engkau tahu bahwa zakat itu seiring dengan shalat?” Malik menjawab, “Begitulah yang dikatakan oleh sahabat kalian.” Khalid berkata, “Berarti ia adalah sahabat kami dan bukan sahabatmu? Wahai Dhirar penggallah lehernya!” Maka lehernya segera dipenggal, ketika itu Abu Qatadah mempermasalahkan perbuatan Khalid terhadap Malik hingga akhirnya Abu Qatadah melaporkan Khalid kepada Abu Bakar. Umar berbincang dengan Abu Qatadah tentang masalah Khalid ini hingga Umar berkata kepada Abu Bakar, “Copotlah Khalid dari jabatannya! Sesungguhnya pedangnya terlampau mudah mencabut nyawa orang.” Namun Abu Bakar menjawab, “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang dihunus Allah terhadap orang kafir.” Setelah itu datang Mutammin bin Nuwairah melaporkan perbuatan Khalid. Umar membantunya hingga akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu membayar diyat untuknya dari harta pribadinya.

Umar masih terus menerus menganjurkan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu agar mencopot kedudukan Khalid, ia berkata, “Sesunguhnya pedangnya terlampau mudah mencabut nyawa manusia!” Hingga akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengirim utusan agar membawa Khalid ke Madinah. Khalid datang ke Madinah masih memakai baju perangnya yang terbuat dari besi, sementara di sana sini bajunya mulai berkarat disebabkan banyak terkena darah. Ia masuk menghadap Abu Bakar dan memohon maaf atas tindakannya. Abu Bakar memaafkan perbuatannya, dan tidak mencopotnya, walaupun sebenarnya Khalid telah berijtihad ketika membunuh Malik bin Nuwairah dan keliru dalam ijtihadnya.

Pernah juga Khalid diutus oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada Bani Khuzaimah dan ia membunuh para tawanan tersebut karena mengatakan, shaba’na! shaba’na (maksud mereka sebenarnya: Kami telah masuk Islam). Mereka mengatakannya disebabkan mereka sulit mengucapkan, Aslamna kami telah masuk Islam). Akhirnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membayar diyat tiap tawanan tersebut dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengembalikan bejana tempat minum anjing milik mereka. Beliau berdoa sambil mengangkat tangan, “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang diperbuat Khalid.”[168] Walaupun demikian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mencopotnya dari jabatannya.

[166] Yaitu sebuah danau kecil di daerah Bani Asad di negeri Najed. (Yaqut, ibid 1/445).

[167] Ya¡tu Dhirar bin al-Azur bin Malik bin Juzaimah dari bani Asad bin Khuzaimah, termasuk salah seorang sahabat Nabi yang masyhur, lihat biografinya dalam al-Ishabah 3/481.

[168] Lihat kisah pasukan Khalid yang di utus ke Bani Juzaimah dalam Shahih al-Bukhari, kitab al-MaghaziSI 57 dari FathulBan. Dan kata milghatul kalbi adalah tempat air yang dlmlnum airnya langsung dengan memasukkan tempat tersebut ke dalam -nulut untuk dijilat. Lihat Abu as-Sa’adat Ibnul Atsir, an-Nihayah Gharib al-Hadits 5/ 226

 [Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *