Hikmah Ibadah Qurban

Salah satu Hari Raya Umat Islam sebentar lagi akan datang, yaitu Idul Adha atau hari raya kurban. Hari raya yang disyariatkan di dalamnya sebuah ibadah yang agung yaitu ibadah qurban. Sudah semestinya kaum muslimin menyambutnya dengan suka cita didasarkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hendaknya kaum muslimin tidak hanya melewati hari raya dan ibadah qurban tanpa mengambil hikmahnya, hikmah dari perjalanan disyariatkannya, dan hikmah-hikmah lainnya untuk kita jadikan pembelajaran dalam rangka meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala.

  1. Belajar Keikhlasan hanya Karena Allah Ta’ala

Ibadah qurban sebagaimana Ibadah yang lain yaitu sebagai sarana  untuk menggapai ridha Allah. Yang dituntut dalam amalan ibadah adalah keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah. Karena hal itulah yang dapat meraih ridha Allah. Darah dan daging kurban bukanlah yang dituntut oleh Allah dalam berqurban tetapi keikhlasanlah sebenarnya yang diuji.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

  1. Belajar beribadah sesuai dengan Tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam ibadah qurban tentunya ada ketentuan dan aturan yang harus dipenuhi. Dalam melakukan ibadah qurban harus sesuai dengan apa yang tuntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Misalnya, mesti dihindari cacat yang membuat tidak sah (buta sebelah, sakit yang jelas, pincang, atau sangat kurus) dan cacat yang dikatakan makruh (seperti sobeknya telinga, keringnya air susu, ekor yang terputus). Umur hewan qurban harus masuk dalam kriteria yaitu hewan musinnah, untuk kambing minimal 1 tahun dan sapi minimal dua tahun. Waktu penyembelihan pun harus sesuai tuntunan dilakukan setelah shalat Idul Adha, tidak boleh sebelumnya. Kemudian dalam penyaluran hasil qurban, jangan sampai ada maksud untuk mencari keuntungan seperti dengan menjual kulit atau memberi upah pada tukang jagal dari sebagian hasil qurban. Jika ketentuan di atas dilanggar di mana ketentuan tersebut merupakan syarat, hewan yang disembelih tidaklah disebut qurban, namun disebut daging biasa.

Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

“Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih qurban seperti qurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala qurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai qurban.”

Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing qurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Dalam ibadah qurban juga ada larangan bagi shahibul qurban yang mesti ia jalankan ketika telah masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan qurban miliknya disembelih. Walaupun hikmah dari larangan ini tidak dinashkan atau tidak disebutkan dalam dalil, namun tetap mesti dijalankan karena sifat seorang muslim adalah sami’na wa atho’na, yaitu patuh dan taat.

Dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah (maksudnya telah memasuki 1 Dzulhijjah, -pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no. 1977)

  1. Belajar bersedekah dan berkorban dengan apa yang dimiliki untuk kecintaan dan ketaatan kepada Allah

Ibadah Qurban adalah bentuk keteladanan dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim demi rasa cintanya kepada Allah, Ibadah Qurban agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, buah dari ketaatan  yang didasari rasa cinta kepada Allah.

Sejak disyariatkannya, persembahan yang diqurbankan untuk Allah adalah sesuatu yang sangat berharga, dicintai dan disukai. Persembahan terbaik yang didasari rasa kecintaan yang tulus kepada Allah lah yang akan diterima. Disini Allah  menguji kejujuran cinta seorang hamba kepada-Nya, apakah benar si hamba mencintai Allah diatas segalanya, mau mengorbankan apa saja untuk yang dicintainya, sekaligus menegaskan bahwa Allah adalah pemilik semuanya termasuk apa-apa yang dititipkan pada manusia.

Dalam kisah nabi Ibrahim alaihissalam tertulis dalam tinta emas bagaimana jujurnya kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Kecintaan dan ketaatan Nabi Ibrahim alaihissalam kepada Allah melahirkan sikap rela berkorban apa saja menurut apa yang diperintahkan walaupun harus mengorbankan diri dan anak yang sangat disayanginya. Sikap pengorbanan yang luar biasa yang berbuah ridha dari Allah sehingga Ismail pun diganti dengan domba ketika pisau sudah menempel di leher.

Peristiwa tersebut memberikan keteladanan bagi setiap muslim dalam kecintaan, dan pengorbanan dengan mendahulukan kecintaan kepada Allah Ta’ala dari hawa nafsu dan syahwatnya dan rela berkorban untuk Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala memampukan dan menggolongkan kita dalam golongan orang-orang yang jujur cintanya kepada Allah Ta’ala.. Amiin

( BA )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *