Hukum Menabung di Bank

Menabung di bank karena terpaksa dan bagaimana menyikapi “bunga” nya ?

Jawab:

Islam sudah mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk dalam urusan harta seperti dalam Al Qur’an Allah sebutkan yang artinya, “dia yang telah menciptakanmu dari bumi dan menjadikanmu pemakmurnya” (QS. Hud: 61) akan tetapi Allah memberikan batasan-batasan yang halal dan haram dalam hal memakmurkan bumi tersebut. Seperti dalam permasalahan menabung uang di bank yang di dalamnya terdapat praktek riba, asal hukumnya adalah tidak boleh menyimpan uang di bank-bank seperti itu karena jika bank-bank tersebut menyimpan uang kita, ia akan menggunakannya dan membisniskannya. Sebagaimana telah diketahui bahwa kita tidak selayaknya memberikan kesempatan kepada orang-orang kafir untuk menguasai harta-harta kita, yang kemudian mereka pergunakan untuk mengais rizki di balik itu. Dan juga tidak boleh menyimpan di bank-bank tersebut meskipun tidak mengambil bunganya. Karena hal ini mengandung sikap tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2)

Jika memang terpaksa melakukan hal itu, seperti seseorang takut hartanya dicuri atau dirampas, bahkan khawatir dirinya dibunuh karena hartanya mau dirampok ; maka tidak apa-apa dia menyimpan hartanya di bank-bank seperti itu karena terpaksa (darurat).

Allah ta’ala berfirman:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS. Al-An’am: 119)

Akan tetapi, ketika dia menyimpannya dalam kondisi terpaksa maka tidak boleh dia mengambil sesuatu sebagai imbalan atas simpanan tersebut, bahkan haram hukumnya karena itu adalah riba, dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyatakan dalam firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu ; kamu tidak menganiaya dan tida (pula) dianiaya” (QS. Al-Baqarah : 278-279)

Di dalam hadist juga disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Jabir berkata bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (Shahih Muslim)

Intinya selama keburukan itu bisa dihindari semaksimal mungkin maka itulah yang terbaik bagi seorang mukmin dan apabila merasa tidak ada lagi cara selainnya yang itu asalnya adalah larangan maka itu bisa diambil selama tidak membiasakan diri kepada hal tersebut dan tetap selalu berdoa kepada Allah supaya dihindarkan dari hal-hal yang sifatnya melanggar syariat Allah dan Rasul-Nya dan selalu meminta ampun kepadanya.

Wallohu a’lam.

[Team Al Muuqin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *