Kufur, Pengertian dan Pembagiannya

Kufur menurut bahasa adalah pembatas dan penutup. Abu Mansur Al Harawi rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya kata kufr itu memiliki arti dari berbagai segi. Pada dasarnya diambil dari perkataan (كفرت الشيء ) yang berarti saya telah menutupinya. Malam juga disebut kafir karena menutupi sesuatu dengan kegelapannya. Seseorang telah kafir terhadap nikmat Allah karena menutup dan tidak mau bersyukur.

Sedangkan menurut istilah syar’i, para Ulama mendefinisikan menjadi beberapa arti, diantaranya menolak syariat, mendustakan dasar-dasar Islam atau melakukan salah satu pembatal keislaman.

Ibnu Hazm Rahimahullah memaknai kekufuran, “Kufur dalam addin adalah sifat orang yang enggan menolak sesuatu yang telah diwajibkan oleh Allah untuk beriman kepada-Nya setelah ditegakkan hujah baginya dengan sampainya kebenaran dengan hatinya tanpa lisannya atau dengan lisannya tanpa hatinya atau dengan keduanya. Atau dalam arti lain mengerjakan amalan yang disebut dalam nash telah keluar dari iman. (lihat Al Ahkam fii usuli al ahkam karya Ibnu Hazm 1/45)

Kufur terbagi menjadi dua bagian, kufur akbar dan kufur ashgar.

Pertama: Kufur Akbar

yaitu kufur yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kufur akbar terbagi menjadi 5 macam;

1. Kufur Takdzib (mendustakan)

Dalilnya firman Allah Ta’ala;

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Al-Ankabut: 68)

Barangsiapa yang mendustakan Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagiannya atau hanya satu ayat dan mendustakan sunah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam maka dia telah melakukan kufur akbar yang mengeluarkannya dari Islam.

Kufur mendustakan ini bisa dengan hati, lisan dan anggota badan. Yaitu dengan menyembunyikan kebenaran yang dia ketahui dan tidak tunduk padanya secara dhohir maupun batin. Seperti kekufuran orang yahudi terhadap kebenaran Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Allah berfirman tentang mereka dalam firman-Nya;

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka AlQuran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. Al-Baqarah: 89)

2. Kufur Menolak dan sombong tapi membenarkan

Dalilnya firman Allah ta’ala :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 34)

Orang yang sombong dan tidak mau beribadah kepada Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallalahu ’alaihi wa sallam maka telah kafir, keluar dari Islam sekalipun hatinya membenarkan.

3. Kufur Keraguan

Yaitu ragu di dalam mengikuti kebenaran atau meragukan kebenarannya. Padahal yang  diwajibkan baginya adalah yakin tanpa ragu bahwa apa yang dibawa oleh Rasullullah adalah kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman :

أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدًا (٣٥) وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّى لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا (٣٦) قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرْتَ بِٱلَّذِى خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلًا (٣٧) لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّى وَلَآ أُشْرِكُ بِرَبِّىٓ أَحَدًا (٣٨

“(35) dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (36) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. (37) kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang Dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (38) tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 35-38)

Maka barangsiapa yang ragu terhadap ajaran islam yang termasuk dari dasar islam (ma’alim minaddin bidazrurah) maka ia telah kafir. Kecuali jika dirinya baru masuk islam yang belum tahu syariat apapun atau dia tinggal di tempat yang jauh dari ilmu dan ulama dan tidak mampu untuk belajar dan menghilangkan kebodohan pada dirinya.

4. Kufur Berpaling

Allah Ta’ala berfirman :

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati (keduanya).” kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 47)

Allah Ta’ala meniadakan keimanan pada orang yang berpaling dari beramal meski dalam lisannya dia mengatakannya. Maka jelas bahwa kufur berpaling adalah meninggalkan kebenaran dengan tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya dengan perkataan, perbuatan dan hati. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 3)

Maka barangsiapa yang berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasulullah dengan lisannya seperti berkata “saya tidak mengikutinya” atau dengan perbuatan seperti menolak dan berpaling dari mendengar kebenaran atau meletakkan kedua jarinya pada telinganya sampai tidak bisa mendengarnya.

5. Kufur Nifak

Dalilnya firman Allah Ta’ala:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Nifak berarti menampakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Kedua : Kufur Asghar

Yaitu kufur yang menurut syariat tidak sampai pada kufur akbar, tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Seperti kufur pada nikmat, dalam firman-Nya :

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.

Dalam hadist juga dijelaskan beberapa amalan yang termasuk kufur asghar, seperti melaknat nasab dan menangisi mayit secara berlebihan. Rasullullah shallallahu ’alaihi wa sal;am bersabda:

“Dua golongan dari umatku yang ada padanya sifat kekufuran yaitu melaknat nasab dan menjerit mayit” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

“Menghina seorang muslim adalah fasiq dan memeranginya adalah kafir”

Allahu a’lam

[Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *