Shafar Bulan Bala ?

Ibu A :  Bu…Mau menikahkan anaknya ya..?

Ibu B : Iya Bu.. mohon doanya bu ya ?

Ibu A : Eh Ibu.. sekarang kan bulan Shofar (Shafar) Pamali atuh menikahkan anak di bulan Safar.. nanti bisa kenapa-kenapa lho bu..

Dialog singkat di atas adalah permisalan yang terjadi di tengah masyarakat, tidak hanya di negeri kita ini, tetapi di negeri yang lain.

Sebagian berkeyakinan bahwa bulan Shafar bulan yang ke-2 tahun Hijriah adalah bulan sial, bulan penuh bala’, sehingga banyak pernikahan dan acara bepergian serta aktifitas lainnya digagalkan, hal ini berdasarkan sebuah keyakinan bahwa tiap hari Rabu terakhir dari bulan Shafar diturunkan 320.000 bala’.

Bahkan ada yang menyebarkan hadist palsu tentang bulan Shafar, diantaranya :

 من بشرني بخروج صفر بشرته بالجنة

Artinya: “Barangsiapa yang bergembira dengan keluarnya bulan Shafar maka aku akan berikan kabar gembira dengan surga.

Ini hadist dinilai palsu oleh Al ‘Iraqi di dalam Al Fawaid Al Majmu’ah fil Ahadits Al Maudu’ah, Ash Shaghani di dalam kitab Al Maudhu’at dan Muhammad bin Khalil Ath Tharablisi di dalam kitab Al Lu’lu’ Al Marshu’.

Bulan Shafar dalam pemikiran Arab Jahiliyah

Bulan ini dinamakan bulan Shafar dalam arti kosong sebab menjadi kebiasaan dari orang Arab pada jaman dulu yang meninggalkan rumah mereka sehingga menjadi kosong pada bulan tersebut dalam artian menunjukkan arti yang negatif dan inilah yang akhirnya memberikan arti jika bulan Shafar adalah bulan yang harus diwaspadai karena memiliki banyak kesialan.

Ada juga yang mengatakan jika Shafar diambil dari nama penyakit seperti yang juga diyakini orang Arab jahiliyah di masa lampau yakni penyakit shafar yang ada di perut sehingga akan membuat seseorang menjadi sakit karena terdapat ulat besar yang sangat berbahaya. Sadar juga dinyatakan sebagai jenis angin berhawa panas yang terjadi pada perut serta banyak pengartian lainnya dari kata Shafar tersebut.

Pendapat yang menyatakan jika bulan Shafar adalah bulan sial dan tidak baik untuk mengadakan sebuah acara penting merupakan khufarat atau tahayul dan mitos. Khurafat adalah bentuk penyimpangan dalam akidah Islam. Beberapa keyakinan dalam hal ini meliputi beberapa larangan seperti melakukan pernikahan, khitan dan berbagai perbuatan lain yang apabila dilakukan akan menimbulkan musibah atau kesialan.

Pemikiran ini terus saja berkembang dari setiap generasi bahkan hingga sekarang yang dianggap sebagai bulan tidak menguntungkan. Mitos akan hal ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang bersabda jika bulan Safar bukanlah bulan yang sial dan sudah jelas tidak masuk dalam dasar hukum Islam.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Shafar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa. (HR. Bukhari)

Bulan Shafar dalam Islam

Beranggapan sial pada bulan Shafar ini masuk ke dalam jenis tathayyur yang dilarang dan masuk ke dalam jenis amalan jahiliyah yang sudah dibatalkan atau dihapus dalam Islam, pada bulan ini juga terdapat kebaikan serta keburukan seperti halnya bulan yang lain. Kebaikan yang ada hanya semata-mata datang dari Allah dan keburukan terjadi karena takdir-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” (HR. Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327))

Selain itu, kepercayaan, mitos atau tahayul juga sudah secara tegas dibantah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada kemalangan pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Shafar (seperti yang dipercayai).”

Akan tetapi pada kenyataannya, masih banyak umat muslim yang percaya jika bulan Shafar adalah bulan bencana yang bisa memberikan banyak keburukan meskipun sudah dibantah dengan tegas oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah keyakinan inilah yang dapat menjerumuskan seseorang pada jurang kemusyrikan.

Ingatlah wahai kaum muslimin …

Sial, naas ataupun bala bisa terjadi kapan saja dan tidak hanya sebatas bulan Shafar saja. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan,

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [التغابن : 11

Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghabun: 11)

Sebagai seorang Muslim maka wajib untuk menyakini dengan keyakinan total tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa tidak dan Dzat yang mencipta, mengatur, berkuasa sepenuhnya kecuali Allah Ta’ala, dan semua yang menimpa kita adalah dengan izin dan kehendak dari Allah Ta’ala, bukan karena bulan Shafar, karena burung dan lainnya.

Seorang muslim wajin meyakini bahwa semua makhluk sudah ditakdirkan Allah Ta’ala dan takdirnya dituliskan di Al Lauh Al Mahfuzh.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Hadid: 22)

Keyakinan semacam itu adalah keyakinan syirik, karena menganggap bahwa bala’, bencana ataupun musibah terjadi karena pengaruh bulan, karena pengaruh burung (tathoyyur) atau semisalnya, padahal ayat dan hadist diatas jelas menjelaskan bahwa semua bala, bencana, musibah kecuali dengan izin Allah.

Bagaimana cara mengobati hal tersebut..

  1. Melawan perasaan tersebut dengan melaksanakan apa yang sudah direncanakan lalu bersandar diri kepada Allah Ta’ala.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضى الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

Beliau bersabda: “Dan tidak ada diantara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).” (HR. Abu Daud)

Di dalam hadist ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa perasaan bernasib sial akan hilang dengan bersandar diri kepada Allah.

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065)

  1. Menumbuh perasaan optimis dan perasangka baik di dalam diri, di antaranya dengan mengucapkan perkataan yang baik-baik jauh dari pesimisme.
  2. Berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ « أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu”, beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapakan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065)

(*red . dari berbagai Sumber)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *