Syarat & Ketentuan Takfir (Seri 1)

Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, perkara takfir adalah perkara dasar aqidah ahlu sunah. Salah satu bentuk peribadatan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Sehingga  Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam dalam hal ini menegaskan dengan tegas juga memperingatkan untuk tidak berbuat serampangan.

Diriwayatkan dalam shahihain, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

من قال لأخيه : يا كافر فقد باء بها أحدهما فإن كانت فيه و إلا حارت عليه

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya: wahai kafir! Maka panggilan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika itu benar maka akan kembali kepada dirinya namun sebaliknya apabila yang tidak ada padanya maka akan kembali kepada dirinya sendiri (pemanggil).

Kita sepakat bahwa takfir termasuk ibadah maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan syar’i, yaitu mengikuti Al Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam atas dasar pemahaman salafushalih. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radiyallahu’anha, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam bersabda;

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (syariat) dan bukan bagian darinya maka tertolak. ( H.R. Bukhari Muslim )

Sebelum masuk kepada pembahasan syarat dan ketentuan takfir, ada 1 pembahasan penting yang harus dipahami. Yaitu macam-macam orang kafir. Orang kafir terbagi menjadi dua jenis:

  1. Kafir Asli

Tidak ada perbedaan atas kekafiran orang-orang  yahudi, nasrani, majusi, hindu dan agama yang batil lainya. Allah Ta’ala telah berfirman;

 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam …” (QS. Ali Imran: 19)

 

Agama selain Islam adalah agama batil, jelas kesesatan dan kekufurannya. Maka pembahasan syarat dan ketentuan takfir tidak berlaku pada mereka, sama saja terpenuhi syarat atau hilangnya penghalang tidak mengubah status mereka sebagai orang kafir.

 

  1. Kafir Thari’

Maksudnya adalah kafir karena murtad, kafir karena melakukan salah satu pembatal keislaman. Kafir jenis ini terbagi menjad 2 jenis;

 

  1. Riddah Mugholadoh

Yaitu kemurtadan yang diikuti bentuk kedhaliman terhadap kaum muslimin seperti sihir, menghina Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasalam, membantu orang-orang kafir dalam memerangi kamu musliman dan lain sebagainya.

 

  1. Riddah Mujarodah

Yaitu kemurtadan yang tidak diikuti bentuk kedhaliman terhadap kaum muslimin seperti meninggalkan shalat.

 

Ketentuan dan Syarat Takfir

Ada 3 poin penting yang harus dipahami sebelum menghukumi seseorang kafir yaitu menetapkan tuduhan, terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya penghalang.

Pertama : Menetapkan tuduhan

Seseorang tidak bisa dikafirkan sebelum tetap bahwa tuduhan itu benar, yakin dan tidak samar-samar. Maka pertama kali yang harus dilakukan adalah menetapkan tuduhan bahwa si fulan telah melakukan perbuatan kekafiran.

Bagaimana cara menetapkan tuduhan tersebut?

Ada 2 cara; menetapkan dasar tuduhan dan menetapkan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan mukafirrah (perbuatan yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam jika melakukannya).

  1. Menetapkan dasar tuduhan dengan 3 cara;
  2. Pengakuan

Yaitu seseorang mengaku telah melakukan suatu amalan berupa perkataan atau perbuatan tanpa harus tahu bahwa amalan tersebut mukaffir. Contoh seseorang mengaku bahwa dirinya tidak melaksanakan sholat maka dia telah melakukan perbuatan mukafir tanpa harus mengaku bahwa dia telah melakukan perbuatan mukaffir.

  1. Kesaksian

Para ulama menetapkan syarat seseorang dijadikan sebagai saksi adalah Islam, berakal, baligh dan ‘adil (menjauhi dosa-dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil). Selain itu, seorang saksi saja tidak cukup sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasalam tidak menghukumi gembong munafikin Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai murtad. Padahal dirinya dengan jelas mengatakan perkataan mukaffir “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik) pastilah orang-orang kuat akan mengusir orang-orang lemah dari sana” (QS. Al Munafiqun: 8).

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam tidak menghukuminya murtad padahal tahu bahwa dia mengatakan perkataan itu. Beliau mengetahui setelah menerima wahyu dari Allah Ta’ala. Lalu kenapa Rasulullah tetap tidak menghukuminya murtad? Karena hukum syar’i tidak bisa menghukumi seseorang hanya ada satu saksi, sahabat Zaid bin Arqom radiyallahu’anhu. Ulama sepakat bahwa kesaksian yang sah hanya dengan 2 orang saksi tidak kurang.

  1. Istifadhah (Masyhur)

Masyhur (terkenal) bisa mewakili kesaksian dua orang bahkan sebagian  ahli ilmu berpendapat bahwa masyhur menjadi lebih kuat dibandingkan kesaksian orang banyak dalam menetapkan sebuah hukum. Seperti fulan terkenal tidak melaksanakan sholat di sebuah daerah maka ini sudah mewakili tanpa harus ada pengakuan atau saksi.

 

  1. Menetapkan tuduhan bahwa perbuatannya adalah mukaffir

Dengan 2 cara;

  1. Menetapkan bahwa fulan berkata atau berbuat amalan yang jelas kekufurannya (sharih bil kufr).

 

Seperti misalnya dalam perkara istihza’ biddin (menghina salah satu syariat islam). Fulan sholat tanpa thaharah dengan sengaja.

 

Menurut madzab hanafi bahwa perbuatan ini adalah kufur akbar yang mengeluarkan seseorang dari islam karena perbuatan ini termasuk dari istihza’ biddin.

 

Jumhur menyelisihi pendapat ini, mereka mengatakan bahwa perbuatan ini masih samar-samar. Tidak dengan jelas bahwa ini termasuk perbuatan istihza’ kecuali jika si fulan melakukan hal itu dengan tujuan iztihza’  maka ini adalah kekafiran. Adapun sebaliknya maka tidak termasuk kekafiran.

 

  1. Menetapkan bahwa perbuatannya mukafirrah dengan dalil-dali syar’i dari Al Qur’an maupun As Sunnah.

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit radiyallahu ‘anhu dalam as shahihain, Beliau berkata: “Kecuali kamu melihatnya melakukan kekafiran yang nyata dan kamu mempunyai bukti dari Allah Ta’ala (dalil-dali syar’i)”

 

Seperti misalnya fulan memerangi kaum muslimin. Lalu dihukumi kafir karena yang pertama telah terpenuhi dasar tuduhan. Dirinya mengakui, ada 2 saksi bahkan semua orang mengetahuinya. Kedua perbuatan tersebut jelas terang-terangan dan tidak ada kesamaran. Apakah cukup dikafirkan? Tidak, harus dilihat apakah memerangi kaum muslimin termasuk perbuatan mukaffir atau bukan.

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam bersabda “menghina seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran”. Ahli Ilmu mengatakan bahwa kekufuran yang dimaksud dari hadist ini adalah kufur asghar bukan kufur akbar.

 

Dalam surat Al Hujurat ayat 9 juga disebutkan “Jika kedua kelompok dari golongan orang beriman saling berperang …” dalam  ayat ini Allah menyebut kedua kelompok yang berperang tersebut mu’min. Ini menegaskan bahwa memerangi kaum muslimin bukan termasuk kufur akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam akan tetapi kufrun duna kufrin.

Bersambung ,,,,

Allahu A’lam

[Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *