Syarat dan Ketentuan Takfir Seri 2

Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan salah satu syarat wajib dalam mentakfir yaitu menetapkan tuduhan. Tuduhan yang disematkan padanya jelas dengan adanya pengakuan dari dirinya atau ada 2 saksi lebih atau perbuatanya sudah diketahui oleh banyak orang (masyhur).

Setelah tuduhan tersebut benar maka selanjutnya adalah mencocokan kepada dalil-dalil, apakah perbuatan yang dilakukan olehnya termasuk perbuatan mukaffir atau bukan. Yaitu dengan dalil-dalil syar’i dari Al Qur’an maupun Al Hadist. Setelah dicocokkan ternyata benar bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan mukaffir (bisa mengeluarkan seseorang dari Islam) tahap selanjutnya adalah apakah telah terpenuhi syarat-syarat yang bisa menyebabkan dirinya dikafirkan atau tidak? Berikut penjelasannya;

Makna syarat

Menurut sebagian ahli ilmu Syarat bermakna ketentuan di luar dari rangkaian amalan yang tidak mengharuskan ketetapannya menetapkan sesuatu atau menghapuskannya akan tetapi tanpanya mengharuskan suatu hukum batal.

Contohnya adalah thaharah termasuk dari syarat sah shalat. Seseorang yang melaksanakan shalat tanpa thaharah maka shalatnya tidak sah. Akan tetapi jika seseorang berthaharah bukan berarti harus melaksanakan shalat.

Syarat berlawanan dengan penghalang (Mani’). Sebagaimana Imam Asy-Syaukani Rahimahullah menjelaskan bahwa mani’ adalah suatu ketentuan dhahir yang jika terpenuhi maka suatu hukum menjadi batal dan tidak mengharuskan tanpanya (tidak terpenuhi) menjadikan hukum tersebut sah dan batal. Penjelasan selengkapnya tentang penghalang (mani’) pada pembahasan setelah ini.

Macam–macamnya;

  • Syarat bagi pelaku

Syarat dari pelakunya adalah kebalikan dari penghalang seseorang dikafirkan.  Seperti seseorang tidak dikafirkan karena ada ikrah (paksaan) maka sebaliknya adalah ikhtiyar (pilihan). Maka jika seseorang melakukan perbuatan mukaffir lalu terpenuhi syaratnya yaitu ikhtiyar (pilihan) maka dia jatuh pada kekafiran. Begitu pula jika tidak terpenuhi syarat (berarti ada penghalang) maka dia tidak jatuh pada kekafiran. Syarat dan penghalang adalah keduanya saling berlawanan.

 

  • Syarat dalam perbuatan

Yaitu menetapkan bahwa perbuatannya adalah perbuatan mukaffir dengan 2 cara yaitu menetapkan bahwa perbuatan yang dilakukannya jelas kekafirannya tidak samar-samar dan telah tetap bahwa perbuatannya adalah mukaffir sesuai dengan dalil-dalil syar’i dari Al Qur’an, As Sunnah mapun ijma’.

 

  • Syarat dalam menetapkan perbuatan

Sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya yaitu berkaitan dengan menetapkan dasar tuduhan.

 

Mawani’ (Penghalang- penghalang) seseorang dikafirkan

Mawani’ bermakna suatu ketentuan dhahir yang jika ada maka hukum menjadi batal. Mawani’ terbagi menjadi 2 bagian;

  1. Mawani’ Samawiyah
  2. Mawani’ Muktasabah

Yang pertama : Mawani’ samawiyah yaitu penghalang yang tidak ada kuasa bagi manusia seperti masa kecil, gila dan tuli. Ketiga contoh tersebut termasuk dari penghalang seseorang untuk dikafirkan.

Dalilnya hadist Aisyah Radiyallahu’anha yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan hadist Ali Bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad. Bahwasannya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

رفع القلم عن ثلاث عن النائم حتى يستسقظ وعن الصبي حتى يحتلم و عن المجنون حتى يفيق

“Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang, yaitu: orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga ihtilam dan orang gila hingga berakal.”

Adapun dalil bahwasanya orang tuli termasuk dari mawani’ samawiah, hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Bahwasannya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Empat jenis manusia yang akan mengajukan banding pada hari kiamat “salah satunya yaitu Orang yang tuli, dia akan berkata : “Wahai Rabbku islam datang namun aku tak mendengar sesuatu apapun tentangnya.. “ (HR. Imam Ahmad)

Misalnya fulan telah menghina Al Qur’an, kita tetapkan dasar tuduhan terhadapnya yaitu dengan pengakuan atau 2 saksi. Dirinya telah mengaku menghina Al Qur’an dan ada saksi-saksinya. Selanjutnya kita tetapkan bahwa penghinaannya terhadap Al Qur’an jelas tanpa samar-samar dan jelas bahwa perbuatannya termasuk dari perbuatan yang mukaffir sesuai dalil-dalil syar’i. Tahap selanjunya, syarat-syarat takfir terpenuhi yaitu fulan tidak dalam keadaan dipaksa (ikrah), perbuatannya mukaffir dan sesuai dengan dalil-dalil syar’i dan tuduhan terhadapnya benar dengan adanya pengakuan dan beberapa saksi. Kemudian pada tahap selanjutnya yaitu mawani’. Apakah fulan memiliki mani’ (penghalang) untuk dikafirkan? Ternyata fulan adalah orang gila, maka fulan tidak bisa dikafirkan karena ada salah satu penghalang.

Yang kedua : Mawani’ Muktasabah yaitu penghalang yang seseorang memiliki pilihan atau kehendak. Penghalang bagi pelaku perbuatan mukaffir adalah lawan dari syarat bagi pelaku. Mawani’ yang kedua ini terbagi menjadi 4 bagian;

  1. Ikrah (paksaan)
  2. Salah yang tidak disengaja
  3. Bodoh sangat lemah
  4. Ta’wil yang diterima

Pertama : Ikrah atau paksaan

Ikrah termasuk dari udzur syari sebagaimana yang termaktub dalam surat An-Nahl ayat 106,

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. “ (QS. An-Nahl: 106)

Allah Ta’ala dalam ayat ini menjelaskan bahwa barangsiapa yang dipaksa melakukan sebagian perbuatan mukaffir maka tidak dihukumi kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan bahwa Ikrah yang diudzur adalah ikrah yang menyebabkan pada sakit yang keras seperti penyiksaan, pemotongan anggota badan, bakar atau pembunuhan dan selainnya.

Ikrah terbagi menjadi 2 yaitu Ikrah Mulji’ dan ikrah ghairu mulji’. Ikrah Mulji adalah ikrah yang bisa menghalangi seseorang dikafirkan selama terpenuhi syarat-syaratnya. Ikrah Mulji’ terbagi mejadi 2 yaitu ikrah yang tidak ada pilihan sedikitpun dan ikrah yang masih terdapat pilihan.

Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah dalam kitab ikrah dari Shahih Bukhari, Beliau menjelaskan beberapa syarat ikrah mulji’

  1. Hendaknya orang yang memaksa mampu untuk melaksanakan ancamannya dan orang yang dipaksa tidak mampu menolaknya meski dengan cara kabur.
  2. Orang yang dipaksa yakin bahwa orang yang memaksanya mampu untuk melaksanakan ancaman terhadapnya meski tidak berbuat.
  3. Hendaknya paksaan tersebut pada saat itu juga seperti perkataan “kafirlah hari ini, jika tidak aku akan bunuh kamu besok!” contoh ini tidak termasuk dari ikrah mulji karena ada jarak waktu dan tidak terjadi seketika itu.
  4. Tidak ada sesuatu yang menunjukan pilihan sama sekali bagi orang yang dipaksa.

Tambahan :

  • Seseorang dipaksa untuk menghina Allah Ta’ala lalu menghina-Nya dua kali maka ini tidak termasuk ikrah mulji’
  • Seseorang dipaksa untuk menghina Allah Ta’ala lalu menghina Allah dan Rasul-Nya maka ini juga tidak termasuk dari ikrah mulji’ karena dirinya berlebihan dan pilihannya sendiri.
  • Termasuk ikrah adalah dipaksa untuk mengatakan suatu perkataan yang mukaffir atau berbuat perbuatan mukaffir, keduanya diperbolehkan.
  • Tidak termasuk ikrah mulji ketika seseorang dipaksa melakukan kekafiran lalu dia melakukannya secara terus menerus. Seperti seseorang yang dipaksa untuk berhukum pada selain hukum Allah selamanya maka ini tidak termasuk dari pada ikrah mulji’. Sebagaimana keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Ahlu Sunnah Imam Ahmad rahimahullah, “Seseorang dipaksa untuk memakai salib lalu dipaksa untuk terus menerus dalam agama nasrani maka ini bukan termasuk ikrah.”
  • Dalam perkara ikrah mana yang lebih utama, mengambil azimah atau rukhsoh? Menurut ijma’ bahwa mengambil azimah adalah lebih utama sebagaimana wasiat Nabi kepada Abu Dzar “Janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah meski kamu dipotong anggota badanmu dan dibakar!” Jika demikian, bukan berarti mengambil rukhsoh tidak diperbolehkan. Justru telah ada contoh dari sahabat Ammar bin Yasir rahimahullah beliau mengambil rukhsoh dan diampuni sebagaimana dalam ayat di atas.

Allahu a’lam

Bersambung …..

 [Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *