Takfir dalam Islam

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu’anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ()وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ()

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah  (2) QS. An-Nasr : 1-2 lalu bersabda “Sungguh mereka akan keluar berbondong-bondong dari Islam sebagaimana mereka masuk ke dalamnya.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Jabir bin Abdillah Radiyallahu’anhuma dari Rasulullah Shallallahu’alahi wasalam, Beliau bersabda: “Sesungguhnya manusia telah masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong maka akan keluar darinya berbondong-bondong juga.”

Benar adanya, hari ini telah terbuka semua pintu kekafiran dan kesyirikan yang tak lagi dipahami oleh sebagian besar umat Islam. Hampir semua pintu telah dilakukan oleh mereka tanpa disadari. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah memperingatkan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan Hadist. Seperti termaktub dalam surat An-Nisa ayat 150-151,

Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain). “Serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman dan kafir) (150) Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (151)

Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla dengan sangat jelas menegaskan bahwa barangsiapa yang mengimani sebagian syariat dan mengkufuri sebagian yang lain maka dia adalah telah kafir meski dirinya mengakui beriman. Ini hanya 1 pintu yang bisa menjadikan seorang muslim keluar dari Islam dan pintu-pintu yang lain masih banyak.

Dan dari ayat di atas, kita juga bisa mengambil hikmah bahwa Allah mengkafirkan orang-orang yang beriman pada sebagian syariat dan mengkufuri bagian yang lain. Ini sebagai penegasan tentang syariat takfir (pengkafiran) meski di kalangan umat ini terjadi perbedaan yang sangat keras. Sebagian terlalu gegabah, ghuluw dalam mentakfir dan sebagian yang lain meninggalkan dan menjauhinya.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya syaitan tidak menghiraukan dari mana seseorang terjatuh pada dosa, dia berusaha menjerumuskan manusia kepada dosa dengan cara ini atau itu, melalui pintu ifrath (berlebih-lebihan) atau tafrith (meremehkan), melalui pintu irja atau guluw. Dirinya tidak menghiraukan dari mana manusia terjatuh. “

Adapun Ahlus Sunah Wal Jama’ah mengambil tengah-tengah dari keduanya, tetap meyakini bahwa takfir (pengkafiran) terhadap siapa saja yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban tanpa bersikap guluw (berlebih-lebihan) dan serampangan. Sesuai kaidah syar’i yang ada serta tidak meremehkan dan meninggalkannya karena nafsu.

Ayat lain yang menegaskan bahwa takfir bagian dari syariat islam adalah sebagai berikut:

  1. Allah berfirman dalam surat AlKafirun ayat 1

“Katakanlah (Muhammad ), “wahai orang-orang kafir” (Q.S. Al Kafirun: 1)

Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla tidak berfirman Katakanlah Muhammad, “Wahai orang-orang Quraisy, Wahai orang-orang Arab, Wahai manusia. Akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla berfirman “Wahai orang-orang kafir” Dia menyeru mereka sesuai dengan keadaan mereka (kafir kepada Allah ‘Azza wa Jalla).

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dari ayat tersebut (Al-Kafirun ayat 1) adalah penegasan atas kekafiran mereka atau mereka atas kekafiran.”

  1. Allah berfirman dalam surat AlBaqarah ayat 256

“Barangsiapa ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256)

Al Urwah Al Wutsqa maknanya adalah kalimat Laa ilaha illallah, atau ada yang mengatakan maknanya adalah Islam. Syaikh Al Alamah Muhammad Al Amin Asy-Syanqithi berkata  tentang ayat ini dalam Adhwaul Bayan: “Barangsiapa yang tidak mengkufuri thagut maka dirinya belum beriman kepada Allah, maka barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah akan dikembalikan bersama orang-orang celaka.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah menjelaskan: “Kufur terhadap thogut yaitu dengan cara membatalkan seluruh peribadatan kepada selain Allah sama saja beribadah kepada jin, manusia, batu, dan pohon. Dan dengan cara bersaksi bahwa mereka para pelakunya adalah kafir dan sesat.” (Ad Durar As Saniyah juz 2 hal. 121)

  1. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat AlMumtahanah ayat 4 menjelaskan tentang aqidah para Rasul dan Nabi

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

Syaikh Sulaiman bin Sahman Rahimahullah berkata : “كفرنا بكم “ maksutnya adalah kami kafirkan kalian.

Selain dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, menurut keterangan dari Ibnu Katsir dalam kitabnya As Siroh ketika Abu Bakar Ash-Shidiq bertemu dengan Rasulullah pada pertama kalinya. Beliau bertanya kepada Rasullullah “Wahai Rasulullah, apakah benar engkau menghina nenek moyang Quraisy dan mengkafirkan mereka?” Beliau menjawab: “Ya” kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam menyerunya untuk masuk Islam lalu beliau menerimanya.

Disebutkan juga, ketika terjadi fitnah riddah (kemurtadan) pada masa kekhilafan Abu Bakar Ash-Shidiq, Beliau mengawali penulisan suratnya dengan “Dan Aku bersaksi bawah tidak ada ilah yang paling berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Kemudian beliau berkata “Dan kami kafirkan siapa saja yang enggan dan kami perangi mereka”.

Dari penjelasan ayat atau hadist di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa takfir (mengkafirkan) adalah bagian dari syariat Islam. Takfir harus dengan Ilmu, orang-orang yang dikafirkan adalah siapa saja yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban tanpa bersikap berlebih-lebihan dan serampangan harus sesuai dengan kaidah Syar’i. Maka menjadi kewajiban kita untuk terus belajar ilmu Syar’i … Allahu A’lam.

 [Team Al Muuqin – Berbagai Sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *